//Teknik Budidaya Mangrove

Teknik Budidaya Mangrove

Menanam merupakan salah satu kegiatan utama dalam silvikultur. Salah satu keiatan menanam yaitu kegiatan menanam mangrove. Mangrove merupakan suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas tersebut di daerah pasang surut.  Terdapat istilah lain yang sering disamakan dengan mangrove yaitu hutan bakau dan hutan payau. Istilah hutan bakau untuk menggambarkan mangrove sebenarnya merupakan istilah yang kurang tepat. Istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan mangrove yaitu hutan payau.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki mangrove terluas di dunia yaitu seluas 3,2 juta ha. Indonesia memiliki 17.476 pulau kecil dengan 28 pulau besar. Indonesia memiliki 99% pulau kecil yang keberadaannya bergantung pada mangrove dan hutan pantai. Indonesia memiliki 92 pulau terluar yang berbatasan dengan 10 negara. Dari sisi legislatif, Indonesia punya 257 kabupaten/kota yang bermangrove. Indonesia memiliki 7,7 juta ha luas lahan yang berpotensi untuk ditanami vegetasi mangrove. Data dari KLHK yang terbaru pada tahun 90-an menunjukkan bahwa 52% wilayah mangrove rusak dan sisanya dalam kondisi baik.

Hutan mangrove merupakan tipe hutan yang secara alami dipengaruhi oleh pasang surut air laut, yaitu tergenang pada saat pasang naik dan bebas dari genangan pada saat pasang rendah. Ekosistem mangrove meliputi komunitas mangrove itu sendiri yaitu berupa flora dan fauna yang hidup di dalamnya serta faktor lingkungan seperti faktor edafis, klimatis, dan air, antar komponen tersebut terjadi interaksi satu sama lain.

Mangrove berada di wilayah intertidal, yaitu wilayah yang berada di atas air pada saat pasang surut dan dibawah air pada saat pasang naik. Apabila akan dilakukan suatu kegiatan penanaman mangrove, maka penanaman dilakukan di wilayah intertidal. Di bawah titik surut terendah terdapat padang lamun dan terumbu karang yang selalu tergenang air walaupun surut. Mangrove harus memiliki waktu tertentu terbebas dari genangan karena apabila terus terendam maka akan mati karena tercekik, mangrove memerlukan udara untuk bernafas melalui akarnya. Apabila mangrove ditanam lebih tinggi daripada intertidal, maka disebut hutan pantai, dan apabila mangrove ditanam lebih rendah, disebut terumbu karang dan padang lamun, baru laut lepas.

Pertumbuhan mangrove dipengaruh oleh beberapa faktor ekologis essensial. Apabila kita ingin memelihara atau merhabilitasi mangrove, kita harus memperhatikan faktor-faktor tersebut yaitu ketersediaan unsur hara pada tanah yang cukup, keseimbangan pasokan air tawar dan air laut, dan substrat tanah yang stabil. Apabila terjadi sedimentasi yang berpindah-pindah di laut, maka wilayah tersebut tidak cocok untuk pertumbuhan mangrove.

Mangrove memiliki berbagai macam tipe yaitu tipe delta, tipe laguna, tipe muara sungai, dan tipe pulau. Salah satu mangrove tipe delta yaitu di Cimanuk. Tipe delta terjadi apabila terdapat tanah yang timbul di tengah sungai dan ditumbuhi tumbuhan mangrove. Tipe mangrove laguna seperti yang ada di Cilacap. Tipe mangrove muara sungai ada dimana-mana asal sungai besar. Tipe mangrove tipe pulau atau oseanik adalah mangrove yang sulit ditanami karena air tawarnya hanya berasal dari air hujan. Vegetasi di atas mangrove tipe pulau tidak boleh diganggu karena keberadaan pulau ini hanya mengandalkan vegetasi.

Untuk menanam mangrove dapat menggunakan propagul mangrove, anakan dari alam, atau anakan dari persemaian. Propagul mangrove adalah buah mangrove yang telah mengalami perkecambahan. Ada beberapa kriteria propagul matang yang akan ditanam langsung yaitu pada bagian cotyledon terdapat cicinin dan apabila hypocotyl ditarik dengan tangan akan mudah terlepas dari buah. Keuntungan penanaman mangrove menggunakan propagul yaitu mudah penanganannya, murah, apabila hipokotil bagiasn atas rusak terdapat tunas tambahan. Sedangkan kerugiannya yaitu tergantung musim berbuah masak dan mudah diganggu oleh kepiting dan teritip.

Jika ingin menanam mangrove menggunakan bibit dari anakan alam, maka ukuran tingginya sekitar 0,5-1 m, dianjurkan unuk dipangkas sampai 2/3 tinggi, jika dari tempat terbuka maka harus segera ditanam, sedangkan jika dari hutan alam maka harus diaklimatisasi terlebih dahulu. Keuntungan penggunaan bibit dari anakan alam yaitu tahan menghadapi faktor perusak seperti kepiting dan gulma lebih mudah dibanding anakan dari persemaian. Namun, bibit dari anak alam cenderung lebih mahal dibanding propagul.

Bibit dari persemaian relatif tahan terhadap gangguan hama, jadwal penanaman tidak tergantung musim kemasakan buah, kadang lebih besar peluang keberhasilannya, dan kualitas lebih seragam. Namun bibit dari persemaian penangangannya lebih sulit, pengawasan lebih ketat, dan relatif mahal.

Jarak tanam yang biasa digunakan untuk menanam mangrove di Indonesia yaitu  1 m  1 m, 1,5 m  1,5 m, 2 m  2 m, 2 m  1 m. Sedangkan pada daerah pinggiran sungai, pinggir tanggul, tambak, dan daerah rentan abrasi jarak tanam biasanya lebih rapat seperti 0,25 m  0,25 m atau 0,5 m  0,5 m. Desain penanaman yang dapat digunakan yaitu dapat berupa pola tanam bujur sangkar, pola tanam model zzig-zag (untu walang), atau pola tanam sistem klaster. Teknik-teknik penanaman mangrove yan sudah diterapkan di Indonesia yaitu teknik cemplongan, teknik Water Break, teknik pancang/ruas bambu, teknik guludan, teknik polybag besar, teknik parit berlumpur, teknik klaster, dan teknik lubang berlumpur. Sedangkan beberapa teknik yang dapat digunakan dalam pemanfaatan mangrove untuk rehabilitasi ekosistem mangrove yang rusak yaitu teknik empang parit, agrosilvopasturalfishery, dan sylopasturalfishery.

Setelah kegiatan penanaman mangrove, diperlukan adanya kegiatan pemeliharaan. Kegiatan pemeliharaan dilakukan dengan mengunjungi setiap tanaman dan mengatasi setiap gangguan dari pohon ke pohon. Gangguan tersebut dapat berupa hanyutan material kayu, batang bamboo, plastic serta material lainnya, hanyutnya tanaman karena arus atau ombak, penutupan lumut sehingga menurutpi tanaman mudah, gangguan kepiting dan teritip, serta hama yang menyerang mangrove seperti hama Aulacaspis marina.

.