//Agroforestri

Agroforestri

Agroforestri yaitu sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu (pepohonan, perdu, bamboo, rotan dan lainnya) dengan tanaman tidak berkayu atau dapat pula dengan rerumpuan (pasture), kadang-kadang ada komponen ternak atau hewan lainnya (lebah, ikan) sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antara tanaman berkayu dengan komponen lainnya.

Agroforestri melibatkan dua atau lebih spesies tanaman (atau tanaman dan hewan), setidaknya satu diantaranya adalah tanaman berkayu, memiliki dua atau lebih luaran. Sistem siklus agroforestry selalu lebih dari satu tahun dan juga lebih kompleks (secara ekologi, struktur, fungsi, dan ekonomi) daripada sistem monokultur).

 

  • Ruang lingkup agroforestri (4I)
  1. Intentional, sistem yang sengaja didesain.
  2. Intensive, dikelola secara intensif untuk tujuan produktif dan protektif.
  3. Interactive, interaksi biologis dan fisik antara komponen-komponen sistem pohon, tanaman, dan hewan.
  4. Integrated, kombinasi fungsional dan structural dari komponen-komponen sebagai unit terpadu.

 

  • Klasifikasi agroforestri
  1. Dasar Struktural. Menurut komponen-komponen agrikultur, silvopastura, agrosilvopastura.
  2. Dasar fungsional: menurut fungsi utama atau peranan dari sistem, termasuk kayu-kayuan
  3. Dasar Sosial-Ekonomi: menurut tingkat maasukan dalam pengelolaan (masukan rendah, masukan tinggi) atau intensitas dan sistem pengelolaan, atau tujuan-tujuan usaha (subsisten (komoditi yang dtianaman tidak diperjualbelikan), komersial (komoditi yang dihasilkan untuk dijual seperti akasia, eukaliptus, pelita, dll), intermediet (sebagian untuk dikonsumsi keluarga, sebagian lagi untuk dijual)/industri).
  4. Dasar Ekologi: menurut kondisi-kondisi lingkungan serta kecocokan, ekologi dan sistem).

 

  • Bentuk-bentuk agroforestri
  1. Agriculture and forestry: Agrisilvikultur
  2. Kehutanan dan peternakan: Silvopastura
  3. Agriculture dengan peternakan: Agropastura (tidak masuk
  4. Kehutanan dan perikanan: Silvofisheries

 

  • Cara penanaman agroforestry
  1. Trees along border: tanaman kehutanan mengelilingi tanaman sela
  2. Alternate rows: tanaman sela hanya satu baris, tanaman kehutnana satu baris secara berseling
  3. Alternate strips/alley cropping: digunakan di lahan yang miring sebagai upaya konservasi atanah dan air. Bentuknya seperti alternate rows tetapi barisnya lebih dari Saturday
  4. Random mixture: bentuk acak antara tanaman kehutanan dan tanaman sela. Kerugiannya akan ada persaingan cahaya, air, dan nutrisi antar pohon karena jarak tanam yang tidak teratur.

 

  • Pembagian agroforestry berdasarkan De Foresta and Michan
  1. Simple agroforestry (ada dua jenis tanaman) misalnya seperti di perhutani
  2. Kompleks agroforestry (Agroforest) lebih dari dua jenis tanaman, stratifikasi lebih banyak.

 

  • Contoh praktik agrofofrsrti lainnya
  1. Alley cropping: budidaya lorong, biasanya menggunakan tanaman legume.
  2. Multi-story croppig: diidindikasikan dengan tajuk yang beragam, bisa terdiri dari tanaman kehutanan dan tanaman obat-obatan (silvofarmaka), lalu ditmbahkan tanaman sela dan jamur.
  3. Winda brake, yaitu untuk memecah angin seperti pohon cemara untuk melindungi tanaman yang berada di dalam tanaman kehutananan.

 

  • Manfaat agroforestry
  1. Ekologi
  2. Siklus hara tanah yang lebih efisien
  3. Perlindungan yang lebih baik di sistem ekologi daerah hulu
  4. Berperan dalam pengendalian terhadap dampak pemanenan global
  5. Mampu mengurangi tekanan penduduk terhadap hutan
  6. Memperbaiki iklim mikro
  7. Meningkatkan unsur hara di dalam tanah
  8. Memperbaiki struktur tanah
  9. Mengurangi laju aliran permukaan, erosi, dan pencucian zat hara tanah
  10. Manfaat ekonomi
  11. Memantapkan dan meningkatkan pendapatan petani
  12. Mengurangi timbulnya gagal panen secara total
  13. Peningkatakan dan penyediaan hasil
  14. Manfaat secara sosial
  15. perbaikan standar hidup petani (karena ada pekerjaan tetap dan pendapatan yang lebih tinggi).
  16. perbaikan nilai gizi dan tingkat kesehatan petani dan adanya peningkatan jumlah dan keanekaragaman hasil pangan.
  17. Perbaikan sikap masyarakat dalam cara bertani (melalui sistem penggunaan lahan yang tetap).