//PEMANFAATAN KATANG-KATANG (Ipomea pes-caprae) SEBAGAI TANAMAN OBAT DARI EKOSISTEM HUTAN PANTAI

PEMANFAATAN KATANG-KATANG (Ipomea pes-caprae) SEBAGAI TANAMAN OBAT DARI EKOSISTEM HUTAN PANTAI

Farah Diba Aulia1, Hanifah Huwaida2, Indi Kurnia Rahman3, Handi Satriawan4, Muhammad Ahsanurizal Saputra5

 

1Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

 

Keyword : Ipomea, forest, medicine

 

Ipomoea pes-caprae (L.) Sweet. atau katang-katang (Convolvulaceae) merupakan herba tahunan dengan akar yang tebal. Panjang batang 5-30 m dan menjalar, akar tumbuh pada ruas batang. Batang berbentuk bulat, basah dan berwarna hijau kecoklatan. Daun tunggal, tebal, licin dan mengkilat. Bunga berwarna merah muda-ungu dan agak gelap di bagian pangkal bunga. Buah berbentuk kapsul bundar hingga agak datar dengan empat biji berwarna hitam dan berambut rapat. Buah berukuran 12-17 mm dan biji berukuran 6-11 mm. Jenis ini tumbuh liar mulai dari permukaan laut hingga 600 m, biasanya dipantai berpasir, tetapi juga tepat pada garis pantai, serta kadang-kadang pada saluran air. Ditemukan hampir diseluruh pantai tropis (Noor et al., 2006).

 

Hutan pantai merupakan salah satu formasi hutan yang berada di

 

kawasan    peralihan    antara    daratan    dan

 

perairan yang memiliki potensi sumberdaya alam yang tinggi. Salah satu ekosistem hutan pantai di Jawa Tengah

 

terdapat di pesisir Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Hutan pantai tersebut merupakan hasil rehabilitasi yang dilakukan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPTKPDAS) Jawa Tengah,

 

masyarakat desa setempat, dan stakeholders lainnya (Wardhani 2014).

 

Sebagian riset yang sempat dicoba sebelumnya ialah tumbuhan ini dapat digunakan untuk menyembuhkan peradangan, perih, kolik, kendala diuresis, serta perih pada penyakit gonore. Katang katang pula dapat dimanfaatkan selaku sumber antioksidan natural sebab sanggup menghambat radikal bebas. Kegiatan hepatoprotektif pada keadaan diabet pula dilaporkan oleh hasil yang dilaporkan menampilkan

 

1

 

keahlian ekstrak katang katang mengembalikan kandungan antioksidan

 

endogen    semacam    superoksid

 

dismutase, malondialdehid, serta katalase pada hewan uji. Ipomoea pes caprae L. mempunyai isi fitokimia di antaranya eugenol, Phytol, asarone, unecanonoic acid, phenol, isi metabolit sekunder yang lain alkaloid, flavonoid, steroids, triterpen, tanin, serta senyawa fenolik (Andayani et al 2018).

 

Katang-katang (Ipomoea pes-caprae) merupakan salah satu tumbuhan penyusun vegetasi yang banyak dijumpai di daerah pantai

 

semenanjung Ujung Kulon (Purwaningsih dan Atikah 2018). Katang-katang merupakan tumbuhan dari famili Convolvulaceae berupa semak menjalar yang tumbuh membelit atau memanjat, dengan daun tunggal menyirip berbentuk segitiga yang bagian tepinya rata. Helaian daunnya tebal serta

 

mengandung getah. Mahkota bunganya berwarna ungu (Fananiar et al. 2018).

 

Katang-katang tumbuh pada formasi terdepan hutan pantai (formasi Pescaprae) dan mampu tumbuh di lahan berpasir dengan kadar garam tinggi dari genangan

 

pasang    laut.    Wardhani    dan

 

Poedjirahajoe (2020) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa daun katang-katang yang berada di wilayah dekat laut memiliki ukuran

yang lebih besar dibandingkan dengan daun katang-katang yang ditemukan jauh dari laut. Tanaman ini dikenal sebagai penstabil pasir

 

serta    memiliki    peran    dalam

 

rehabilitasi ekosistem karena pertumbuhannya dapat membentuk hamparan padat dan dapat mengikat pasir. Selain itu, katang-katang dapat

 

dimanfaatkan sebagai obat tradisional karena memiliki banyak kandungan fitokimia (Nayak et al. 2017; Chan et al. 2016 dalam Wardhani dan Poedjirahajoe 2020).

 

Hasil penelitian Kiriwenno et al. (2021) menunjukkan bahwa daun katang-katang memiliki beberapa kandungan senyawa aktif yang berfungsi sebagai agen antibakteri, yaitu terpenoid, steroid, saponin, tannin, dan flavonoid. Ekstrak daun

 

katang-katang dengan dengan konsentrasi 100% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan zona hambat sebesar 12 mm. Bakteri ini merupakan salah satu penyebab infeksi seperti impetigo, folukulitis, erisipelas, dan selulitis (Rumopa et al. 2016).

 

Selanjutnya penelitian oleh Andayani dan Nugrahani (2018), menyatakan bahwa daun katang-katang dalam etanol memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi serta dapat menetralkan dan menangkal radikal bebas. Rasa khas dari serbuk ekstrak daun katang-katang ialah pahit dan terasa pedas dari kandungan metabolit sekunder, yaitu lavonoid, alkaloid, saponin dan tanin. Hal ini disebabkan oleh faktor kondisi lingkungan tempat tumbuh dari tumbuhan katang-katang.

 

Tanaman ini sering dijadikan obat darurat tradisional untuk gejala bengkak dan nyeri akibat sengatan ubur-ubur-ubur dan bulu babi, dengan cara menempelkan daun

 

2

 

yang sudah diremas di tempat sengatan.

 

Daftar Pustaka

 

Andayani D, Nugrahani R. 2018. Skrining fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun

 

katang-katang (Ipomoea pescaprae. L) dari Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research. 2018(2): 76-83.

 

Fananiar A, Hidayati NR, Widiyanto J. 2018. Identifikasi keragaman

 

tumbuhan berbiji (spermatophyta) di kawasan pesisir pantai Soge Pacitan. Di dalam: Yuhanna WL, Dewi NK, Widiyanto J, Ardhi MW, editor. Integrasi Bioteknologi dan Pembelajaran Biologi yang Futuristik untuk Membangun Revolusi Industri 4.0. Seminar Nasional Simbiosis III; 2018 Sept 15; Madiun, Indonesia.

Madiun: Universitas PGRI Madiun. hlm 254-260.

Kiriwenno    JV,    Yunita    M,    dan

Latuconsina    VZ.    2021.

 

Perbandingan aktivitas antibakteri antara ekstrak daun katang-katang (Ipomoea pes-caprae L.) dan minyak seith

 

terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Majalah Farmaseutik . 17(1): 122-131.

 

Noor YR, Khazali M, Suryadiputra INN. 2006. Panduan Pengenalan

 

Mangrove    di    Indonesia.

 

Wetlands International Indonesia Programme. Bogor.

 

Purwaningsih dan Atikah TD. 2018. Diversitas floristik dan struktur vegetasi di hutan Gunung Payung, Taman Nasional Ujung Kulon. Jurnal Ilmu-ilmu Hayati. 17(3): 225-349.

 

Rumopa PME, Awaloei H, Mambo C 2016. Uji daya hambat ekstrak biji pala (Myristicae fragrans) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes. Jurnal E-Biomedik (EBm). 4(2): 2–6.

 

Wardhani FK, Poedjirahajoe E. 2020. Potensi pemanfaatan Ipomoea pes-caprae (l.) R. Br. di hutan pantai Petanahan

 

Kebumen. Jurnal Ilmu Kehutanan. 14(2020): 145-153.

 

Wardhani FK. 2014. Kesesuaian ekologis hutan pantai untuk wisata dan budidaya pertanian di Petanahan, Kebumen, Jawa

 

Tengah. Tesis (Tidak dipublikasikan). Program Studi

 

Ilmu Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.