//Analisis Pola Agroforestri Pada Kebutuhan Petani Di Kelurahan Kalampangan Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah.

Analisis Pola Agroforestri Pada Kebutuhan Petani Di Kelurahan Kalampangan Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah.

Luas lahan gambut di Provinsi Kalimantan Tengah adalah 3.010.640 ha (Wahyunto dan Subagio, 2004), dikuatirkan tidak mampu lagi memerankan fungsi ekologinl,’a secara optimal. Hal ini ditandai dengan adanya kerusakan lahan gambut yang diakibatkan oleh kebakaran pada setiap nrusirr kemarau. di samping adanya kegiatan pembalakan liar. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekologi dan menurunnya kesejahteraan masyarakat. Lahan gambut terdegradasi perlu segera dipulihkan kondisinya dengan kegiatan penanaman (rehabilitasi dan penghijauan).Upaya rehabilitasi lahan gambuttidak dapat berhasil tanpa upaya melibatkan peran serta masyarakat lokal. Faklor yang turut menentukankeberhasilan upaya memulihkan lahangambut terdegradasi adalah pemilihanjenis yang tepat dari aspek teknis, sosial,ekonomi dan lingkungan.

Agroforestri adalah salah satu sistem pengelolaan lahan yang berfungsi produktif dan proteklif (mempertahankan keanekaragaman hayati, ekosistem sehat, konservasi air dan tanah), sehingga seringkali dipakai sebagai salah satu contoh sistem pengelolaan lahan yang berkeianjutan. Berdasarkan pennasalahan tersebut di atas, perlu dilakukan penelitian yang mampu menganalisis struktur dan klasifrkasi pola agroforestri pada kebun petani. Sehingga dapat diketahui srurktur dan klasifikasi pola agroforestri yang sesuai untuk memulihkan kondisi lahan gambut agar mampu memberikan fungsi maksimal bagi lingkungan.

Petani pada kelurahan Kalampangan sudah menerapkan agroforestri modern atau introduced agroforestri. Ini dapat terlihat dari kombinasi jenis yang terdiri dari 2-3 kombinasi jenis, dimana salah satunya merupakan komoditi yang diunggulkan, seringkali diperkenalkan jenis unggul dari luar (exotic spesies). Dalam hal ini yang merupakan komoditi diunggulkan adalah tanaman jagung (Zea mays L.). 

Ada 3 pola sistem agroforestri yang diterapkan di kelurahan Kalampangan, Kalimantan Tengah, yaitu : 

1. Agrisilvikultur

Sistem agrisilvikultur (Agrisilvicultural sistems), dimana terjadinya penanaman tanaman yang merupakan kombinasi komponen kehutanan (atau tanaman berkaTu/woody plants) dengan komponen pertanian (atau tanaman non-kayu). Tanaman berkayu yang petani di kebun adalah (Nephelium lappoceum L.). ditanam rambutan nangka hal ini adalah sistem agrisilvikultur (Agrisilvicultural sistems), dimana terjadinya penanaman tanaman yang merupakan kombinasi komponen kehutanan (atau tanaman berkaTu/woody plants) dengan komponen pertanian (atau tanaman non-kayu). Kegiatan usaha tani yang dilakukan melalui perpaduan jenis tanaman berkayu atau berdaur panjang dengan tanaman semusim pada lahan garnbut memerlukan pertimbangan tersendiri. Menurut petani apabila tanaman berkalu telah masak tebang maka dapat diambil manfaatnya berupa kayu. Disamping itu untuk tanaman berkayu yang menghasilkan buah seperti jenis rambutan (Nephelium lappoceum L.) Berikut ini adalah komponen penyusun kebun sistem agrisilvikultur pada kebun petani. (Artocarpus heterophyllus Lamk.), dan kelapa (L-ocus ruicifero L.). Sedangkan tanaman musiman berupa jenis pisang (Musa Sp). Adapun tujuan penanaman tanaman berkayu adalah dalam rangka konservasi tanah dan air, selain itu yang utamanya ialah manfaat ekonomi yang didapat melalui penjualan hasil panen berupa buah-buahan.

2. Silvopastura

Silvopastura (Silvopastural sistems) meliputi komponen kehutanan (atau tanaman berkayu) dengan komponen peternakan (atau binatang temak/pasture) disebut sebagai sistem silvopastura. Contoh silvopastura: pohon atau perdu pada padang penggembalaan. Pada hasil pengamatan di lapangan pola agroforestri. Pemanfaatan lahan ntuk pemeliharaan hervan ternak yang telah dilakukan petani ialah silvopastura yaitu melalui pemeliharaan sapi di dalam kandang yang dikelilingi oleh tanaman berkayu seperti kepala, dan tanaman tahunan yaitu pisang, dan jambu biji. Silvopastura (Silvopastural sistems) meliputi komponen kehutanan (atau tanaman berkayu) dengan komponen peternakan (atau binatang temak/pasture) disebut sebagai sistem silvopastura. Contoh silvopastura: pohon atau perdu pada padang penggembalaan. Pemanfaatan lahan untuk pemeliharaan hervan ternak yang telah dilakukan petani ialah silvopasturq yaitu melalui pemeliharaan sapi di dalam kandang yang dikelilingi oleh tanaman berkayu seperti kepala, dan tanaman tahunan yaitu pisang, dan jambu biji.

3. Agrosilvopastura

Agrosilvopastura (Agrosilvopastural sistems) aiiaiah pengkombinasian komponen berkayu (kehutanan) dengan pertanian (semusim) dan sekaligus peternakan/binatang pada unit manajemen lahan yang sama. Pada hasil penelitian ditemukan bentuk dari agrosilvopastura, yairu pengkombinasian antara pemeliharaan hewan ternak seperti ayam dan jagung serta pohon rambutan pada kebun petani. Menurut Sardjono et al (2003), klasifikasi agroforestri didasarkan pada orientasi ekonomi, maka bila dilihat hasil pengamatan lapangan bahwa petani sudah menerapkan agroforestri pada skala semi-komersial (Semi-commercial agrofore stry) dan agroforestri skala komersial (Commercial agroforestry). Dikatakan semi-komersial karena pengusahaan lahan petani ditujukan untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas hasil.

DAFTAR PUSTAKA

Sardjono, M.A, T Djogo, HS Arifin, N Wijayanto. 2003. Bahan Ajar 2 : Klasifikasi dan pola kombinasi komponen Agroforestri. World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia. Bogor.

Wahyunto, S. Ritung dan H. Subagio (2004). Peta Sebaran Lahan Gambut, Luas dan Kandungan Karbon di Kalimantan I Map of Peatiand Distribution Area and Carbon Content in Kalimantan, 2000 – 2002. Wetlands International – Indonesia Programme & Wild!ife Habitat Canada (!VHC). http ://wetlands. or. id. Diakses tanggal 10 Mei 2012.

PENULIS : M REZZY AGUNG P