//Keanekaragaman Agroforestri Tembawang di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Keanekaragaman Agroforestri Tembawang di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Tembawang merupakan suatu bentuk pengelolaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat suku dayak di Kalimantan Barat. Pembentukan tembawang dilakukan setelah petani melakukan perladangan berpindah, dimana sebelum meninggalkan lahan bekas ladangnya mereka tanami berbagai jenis pohon penghasil kayu, buah getah, dan rempah-rempah sebagai tanaman obat. Selain ditanam, banyak juga jenis yang tumbuh secara alami melalui regenerasi alam. Tembawang, selain terdapat di dalam kawasan, kebun, pekarangan, juga terdapat dilahan bekas rumah panjang yang dimiliki oleh masyarakat adat dayak yang hidup di pedalaman Kalimantan (Sundawati 1993). Menurut Darusman (2001), hutan tembawang merupakan suatu areal bekas rumah panjang yangTembawang merupakan suatu bentuk pengelolaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat suku dayak di Kalimantan Barat.

Pembentukan tembawang dilakukan setelah petani melakukan perladangan berpindah, dimana sebelum meninggalkan lahan bekas ladangnya mereka tanami berbagai jenis pohon penghasil kayu, buah getah, dan rempah-rempah sebagai tanaman obat. Selain ditanam, banyak juga jenis yang tumbuh secara alami melalui regenerasi alam. Tembawang, selain terdapat di dalam kawasan, kebun, pekarangan, juga terdapat dilahan bekas rumah panjang yang dimiliki oleh masyarakat adat dayak yang hidup di pedalaman Kalimantan (Sundawati 1993). Menurut Darusman (2001), hutan tembawang merupakan suatu areal bekas rumah panjang yang ditumbuhi berbagai jenis pohon penghasil buah seperti, durian, nangka, langsat, mangga, duku, rambutan, cempedak dan lain-lain. Semua jenis pohon yang ada pada sistem tembawang ini selain merupakan hasil penanaman masyarakat saat mereka akan meninggalkan ladangnya untuk pindah ke tempat yang lebih subur, juga terdapat pohon-pohon tua yang tidak ikut tertebang ketika berladang. 

Roslinda dan Yuliantini (2006) melaporkan bahwa, ladang yang ditinggalkan beberapa tahun banyak ditanami masyarakat dengan tanaman karet, tengkawang, durian yang biasa ditanam dipinggir sungai, dan beberapa jenis buah yang ditanam agak jauh dari sungai yaitu langsat, rambai, rambutan, duku dan lain-lain. Komposisi tumbuhan penyusun tembawang memiliki ragam jenis berupa pohon, perdu, semak dan liana yang strata kanopinya berlapis-lapis menyerupai hutan alam, sehingga banyak orang menyebutnya sebagai hutan tembawang atau agroforest tembawang. Tembawang di Kabupaten Sanggau masih terus diusahakan oleh masyarakat Suku Dayak khususnya, karena dirasakan memiliki manfaat yang besar bagi pengelolanya. Seiring dengan meningkatnya populasi penduduk, pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi, maka tekanan terhadap kawasan menjadi semakin besar karena tingkat kebutuhan, kepentingan terhadap lahan dan sumberdaya alam yang ada di dalamnya terus meningkat. Apalagi dengan semakin banyaknya pergeseran dalam pemanfaatan lahan menjadi peruntukan lain seperti lahan perkebunan kelapa sawit, pemukiman dan tambang. Suatu usaha termasuk pengelolaan agroforest tembawang, jika tidak atau kurang memberikan manfaat bagi yang mengusahakannya, tentu tidak akan bertahan. Keberadaan tembawang yang tetap bertahan dan terus diusahakan pengelolaannya mengindikasikan bahwa tembawang memberikan manfaat yang cukup besar bagi masyarakat yang mengusahakan terutama masyarakat suku dayak, Kalimantan Barat. Agroforest tembawang yang terdapat di lokasi pemukiman penduduk maupun di hutan-hutan dekat perladangan semula ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari secara subsisten ternyata dapat berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Namun, keberlanjutan agroforest tembawang di Kabupaten Sanggau terus mengkhawatirkan akibat alih fungsi kawasan, menyebabkan hilangnya jenis-jenis tertentu yang akhirnya akan berdampak terhadap penurunan keanekaragaman hayati secara umum yang sangat penting bagi kehidupan.

Keanekaragaman jenis Agroforestri Tembawang. Pohon penyusun agroforest tembawang sebagian besar adalah hasil hutan bukan kayu seperti jenis pohon penghasil buah (durian, langsat, manga, rambutan, tengkawang, duku, nangka, cempedak dan lain-lain); tanaman penghasil kayu (ulin, kompas, mersawa) dan penghasil getah (karet, jelutung dan nyatoh). Hutan tembawang ini, jenis tanaman karet merupakan penghasilan utama bagi pemilik hutan. Hasil wawancara dengan petani tembawang bahwa, rata-rata produksi karet sebesar 9 kw/hektar.

 

DAFTAR PUSTAKA

Darusman D. 2001. Resilinsi Kehutanan Masyarakat di Indonesia. Debut Press, Yogyakarta.

Roslinda, Yuliantini E. 2006. Valuasi Ekonomi Jasa Lingkungan Daerah Alir Sungai Taman Nasional Betung Kerihun (Sub DAS Mendalam, Sibau dan Kapuas). Kabupaten Kapuas Hulu Kalimanan Barat. Pontianak. [Laporan Penelitian]. WWF Indonesia. Kalimantan Barat, Pontianak.

Sundawati L. 1993. The Dayak Garden System in Sanggau District, West Kalimantan. An Agroforetry Model. [Thesis]. Germany. Georg-August-University, Gottingen.