//Ketapang (Terminalia catappa), Pohon Peneduh dari Pantai

Ketapang (Terminalia catappa), Pohon Peneduh dari Pantai

Ketapang (Terminalia catappa Linn.) atau Katapang merupakan pohon yang berasal dari India dan menyebar ke Asia, Australia utara, hingga Polynesia. Menurut Putri et al (2018) pohon ini tumbuh liar di daerah pantai dan sering ditanam di daerah dataran rendah sebagai peneduh dan pohon hias di perkotaan. Pohon ketapang akan menggugurkan daunnya dua kali dalam satu tahun, yaitu sekitar bulan Januari hingga maret dan bulan Juli hingga September. Pohon ini termasuk ke dalam famili Combretaceae. Ketapang memiliki batang kayu berwana cokelat keabu-abuan, daunnya berbentuk elips dan berseling. Bunga ketapang tumbuh di ketiak daun dengan mahkota berwarna putih dengan warna cokelat kehijauan pada bagian tengah. Daging buah ketapang dapat dikonsumsi (Alfaida et al 2013).

Pohon ketapang banyak tersebar dari Sumatera dan Papua. Ketapang dapat tumbuh di daerah dataran rendah hingga dataran tinggi dan dapat ditemukan di hutan primer, hutan sekunder, hutan campuran Dipterocarpaceae, hutan rawa, hutan pantai, hutan jati dan sepanjang sungai (Faizal et al  2009). Perbanyakan pohon ketapang dapat dilakukan dengan cangkok dan penanaman biji. Dalam perawatannya diperlukan pemberian pupuk NPK dengan kandungan nitrogen yang tinggi dan pemangkasan (Lestari dan Kencana 2008).

Bagian dari pohon ketapang yang dapat dimanfaatkan antara lain biji, daun, dan kulit kayu. Biji ketapang dimanfaatkan sebagai pencahar dan pelancar ASI. Kulit kayu ketapang akan memberikan efek diuretik, sehingga dapat meningkatkan buang air kecil, selain itu bagian kulit kayu juga dapat digunakan dalam terapi empiris hepatitis. Daun ketapang digunakan sebagai obat cacing, serta mengobati penyakit disentri, lepra, dan rematik (Nugroho dan Nur 2018). Bila diekstraksi, biji ketapang dapat menghasilkan minyak dengan karakteristik memiliki bau seperti kacang, warna minyak kuning jernih, dan tidak larut dalam air, alkohol, ataupun eter. Minyak dari bij ketapang memiliki kadar lemak bebas yang tinggi sehingga dapat diolah menjadi biodiesel, tetapi harus melewati proses praesterifikasi sebelum diolah (Putri et al 2018).

 

Penulis: Ayundra Maharani

 

Daftar Pustaka

Alfaida, Suleman SM, Nurdin M. 2013. Jenis-jenis tumbuhan pantai di Desa Pelawa Baru Kecamatan Parigi Moutong dan pemanfaatannya sebagai buku saku. e-JIP BIOL. 1(1): 19-32.

Faizal M, Noprianto P, Amelia R. 2009. Pengaruh jenis pelarut, massa biji, ukuran partikel dan jumlah siklus terhadap yield ekstraksi minyak biji ketapang. Jurnal Teknik Kimia. 2(16): 28-34.

Lestari G, Kencana IP. 2008. Galeria Tanaman Hias Lanskap. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.

Nugroho RA, Nur FM. 2018. Potensi Bahan Hayati sebagai Imunostimulan Hewan Akuatik. Yogyakarta (ID): Deepublish.

Putri NP, Muslim MA, Sitorus JG, Putra DL, Marjenah. 2018. Extraction of ketapang seeds (Terminalia catappa Linn) as raw material of biodiesel. Konversi. 7(1): 10-14.

 

Sumber gambar: Nugroho dan Nur 2018