//Agroforestri di Riau dan Lampung

Agroforestri di Riau dan Lampung

1.Agroforestri di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau

 

Sumber gambar : google.com

Pengembangan tanaman penghasil gaharu (Aquilaria malacensis Lamk.) di areal perkebunan kelapa sawit merupakan sistem agroforestri yang perlu diketahui pola tanamnya yang tepat. Gaharu merupakan jenis tumbuhan yang menghasilkan produk gaharu, sehingga dikelompokkan sebagai komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Gaharu memiliki kualitas tinggi dan bernilai komersial, namun sejak tahun 2002 kemampuan Indonesia memasok gaharu dalam pasar dunia hanya 10-15% dari total ekspor 300 ton/tahun. Rendahnya pasokan gaharu tersebut disebabkan karena populasi pohon gaharu yang berkurang dan merupakan tumbuhan langka dalam Appendix II CITES (Santoso dan Sumarna 2006). Oleh sebab itu, kelangkaan jenis pohon penghasil gaharu harus diimbangi dengan usaha pengembangan dan budidaya tanaman penghasil gaharu, baik secara monokultur maupun sistem agroforestri (tanaman campuran), seperti pada areal kelapa sawit. Kelapa sawit (Elaeis sp.) merupakan komoditi andalan untuk Provinsi Riau dengan luas perkebunannya mencapai 1.486.989 ha atau 23,73% dari seluruh perkebunan kelapa sawit di Indonesia (Winarno 2007).

Lahan kelapa sawit sangat potensial untuk pengembangan tanaman sela sebagai tanaman campuran. Gaharu merupakan jenis spesies yang bersifat semi toleran (membutuhkan naungan pada fase pertumbuhan awal) sedangkan kelapa sawit berfungsi sebagai pohon pelindung apabila sudah berumur diatas lima tahun. Kondisi inilah yang memungkinkan ditanami jenis penghasil gaharu sebagai tanaman sela. Penanaman tanaman penghasil gaharu idealnya dilaksanakan pada kebun kelapa sawit yang berumur minimal lima tahun karena pelepah kelapa sawit mulai melebar ke samping sehingga dapat berfungsi sebagai penaung untuk tanaman penghasil gaharu. Kombinasi antara tanaman penghasil gaharu sebagai jenis tanaman kehutanan dan kelapa sawit sebagai tanama perkebunan merupakan salah satu sistem agroforestri yang disebut sebagai farm forestry (Suharti dan Wahyudi 2011).

 

2. Agroforestri di Kelurahan Pinang Jaya, Kota Bandar Lampung

Sumber gambar: google.com

Sistem agroforestri merupakan salah satu cara untuk mengatasi terjadinya pengalihgunaan lahan akibat meningkatnya jumlah penduduk yang menyebabkan kebutuhan terhadap sandang, pangan, dan papan semakin tinggi. Pengelolaan lahan dengan sistem agroforestri di Provinsi Lampung banyak diterapkan di hutan rakyat. Masyarakat yang mengelola lahan dengan sistem agroforestri pada umumnya masyarakat yang memiliki lahan yang minim. Pada umumnya jenis tanaman yang dibudidayakan dapat mempengaruhi hasil panen dan pendapatan petani, sehingga perlu adanya komposisi tanaman agroforestri pada lahan yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mampu meningkatkan pendapat petani. Komposisi tanaman yang tepat mampu memberikan fungsi ekonomi dalam jangka panjang dan jangka pendek. Menurut Qurniati et al. (2017) tanaman multi purpose tree species (MPTS) mampu memberikan pendapatan jangka panjang sedangkan tanaman perkebunan dan pertanian merupakan jenis tanaman yang mampu memberikan pendapatan jangka pendek.

Jenis-jenis tanaman yang dibudidayakan oleh petani agroforestri di Kelurahan Pinang Jaya diperoleh delapan komposisi tanaman utama dengan presentase sebesar 50%-70% sehingga tanamannya lebih mendominasi dan tanaman pengisi lainnya. Jenis tanaman yang paling banyak dibudidayakan oleh petani agroforestri yaitu tanaman kakao (Theobroma cacao) dan pisang (Musa sp). Jenis tanaman perkebunan yang dipilih oleh petani seperti kopi dan jenis tanaman pertanian meliputi cabai, kacang tanah, talas, papaya, dan lada. Sementara tanaman MPTS seperti durian, alpukat, jengkol, manga, cengkeh, petai, dan nangka (Ayuniza et al. 2020).

 

Penulis: Vivi Octaviani dan Khoirunnisa Rizki

 

Daftar Pustaka

Ayuniza S, Herwanti S, Wulandari C, Kaskoyo H. 2020. Kontribusi komposisi tanaman agroforestri terhadap pendapatan petani Kelurahan Pinang Jaya Kota Bandar Lampung. Jurnal Tengkawang. 10(2): 123-132.

Qurniati R, Febryano IG, Zulfiani D. 2017. How trust influence social capital to support collective action in agroforestry development. Jurnal Biodiversitas. 18(3): 1201-1206.

Santoso E, Sumarna Y. 2006. Budidaya dan Rekayasa Produksi Gaharu Pada Jenis Pohon Penghasil Gaharu. Bogor: Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi.

Suharti, Wahyudi A. 2011. Pola agroforestry tanaman penghasil gaharu dan kelapa sawit. Jurnal Pendidika Hutan. 8(4): 363-371.

Winarno DJ. 2007. Pola Pengembangan Tanaman Kehutanan dan Perkebunan Dalam Rangka Upaya Peningkatan Produktivitas Lahan. Jakarta: Dit. Bina RHL Kemenhut.