//Agroforestry di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh

Agroforestry di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh

Sistem agroforestri selalu memiliki variasi produk dan komponen yang saling bergantung satu sama lain, dengan salah satu komponennya adalah tanaman keras. Hal inilah yang menyebabkan siklus produk agroforestri lebih dari setahun. Mengingat bahwa konsep agroforestri membawa harapan baru dalam sistem pengelolaan lahan, maka di beberapa wilayah konsep ini mulai dikembangkan secara serius, baik dari segi teknologi terapannya maupun segi sosial ekonominya ( Kamal et al. 2009). Agroforestri sudah cukup dikenal dan telah diterapkan secara luas oleh masyarakat di Kabupaten Bireuen sebagai bentuk perkebunan rakyat. Berkembangnya agroforestri di daerah ini tidak lepas dari pengelolaan yang lebih mudah dibandingkan dengan bentuk usahatani pertanian umumnya seperti padi sawah atau pertanian monokultur lainnya. Agroforestri juga memberikan banyak alternatif pendapatan dan produk yang lebih banyak bagi masyarakat di Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh.

Beberapa jurnal menjelaskan menjelaskan luas lahan yang dimiliki tergolong sedang – luas. Luas kepemilikan lahan terendah 0,4 ha dan tertinggi 5 ha dengan rerata luas kepemilikan lahan 1,6 ha. Luasnya kepemilikan lahan memepengaruhi jenis kombinasi tanaman yang diusahakan dan intensitas pengelolaan. Pengerjaan lahan usahatani umumnya membutuhkan 2 – 4 orang tenaga kerja dan dilakukan dengan melibatkan anggota keluarga. Pengalaman usahatani petani dalam menerapkan agroforestri tergolong lama dan mencerminkan telah adanya pemahaman yang baik dalam pengelolaan usahatani (Satriawan et al. 2013). Pengelolaan usahatani dengan sistem agroforestri sebagian besar (90%) telah dilakukan secara intensif, dan dikelola sendiri oleh petani dengan melibatkan anggota keluarga. Secara turun temurun petani di Kabupaten tersebut,  ini menanami lahan dengan tanaman perkebunan seperti pinang dan kelapa. Sejak mulai dikenalnya kakao dan kelapa sawit, banyak diantara petani menyisipkan di antara tanaman yang telah ada, disamping tanaman produktif lainnya. Kombinasi tanaman yang umum diterapkan petani adalah tanaman penghasil kayu dengan tanaman pangan, tanaman perkebunan dengan tanaman pangan dan penghasil kayu (tanaman pinggir), tanaman perkebunan dengan hortikultura. Selain itu, sebagian kecil petani menerapkan kombinasi tanaman perkebunan dengan tanaman pakan, tanaman perkebunan dengan ternak. Kabupaten Bireuen menerapakan sistem agrisilvikultur dan agrosilvopastural.

 

Daftar Pustaka

Kamal KS, Mitchell CP. 2009. Identifying important biophysical and social determinants of on    farm tree growing in subsistence-based traditional agroforestry systems. Agroforest   Syst . 7(5):175– 187.

Satriawan H, Fuady Z. 2013. Karakteristik dan prosepek ekonomi sistem agroforestri di   kabupaten Bireuen Aceh. Lentera. 13(2): 42-49.

https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/100077

 

Sumber gambar:

https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/100077

 

Penulis: Putri Azli L dan Alexa