//Waru (Hibiscus tiliaceus)

Waru (Hibiscus tiliaceus)

Waru atau baru (Hibiscus tiliaceus) juga dikenal sebagai Waru laut, atau Dadap laut (Pontianak). Jenis ini telah lama dikenal sebagai pohon peneduh baik di tepi jalan atau di tepi sungai dan pematang serta di tepi pantai. Waru disukai karena akarnya tidak dalam sehingga tidak merusak jalan dan bangunan di sekitarnya, selain itu bunganya yang kuning mencolok indah dipandang mata. Waru yang masih semarga dengan kembang sepatu ini merupakan tumbuhan asli dari daerah tropika di daerah Pasifik barat (Suwandi dan Hendrati 2014).

Di Indonesia, tanaman waru mudah ditemukan dan dapat tumbuh di segala macam lingkungan. Oleh masyarakat, selain sebagai tanaman peneduh, umumnya daun waru digunakan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan penyakit demam, batuk, infeksi telinga, sesak nafas, diare, disentri, tipus, TBC, randang amandel, peradangan usus, abses, penyubur rambut dan bisul. Berbagai macam khasiat daun waru ini disebabkan adanya kandungan senyawa kimia yang terkandung di dalamnya, seperti flavonoid, tannin, polifenol, saponin, alkaloid dan steroid (Surahmaida et al. 2020).

Menurut IUCN Red List, tanaman waru masuk ke dalam kategori LC (Least Concern) yaitu berisiko rendah, kategori ini adalah kategori dari IUCN untuk spesies yang telah dievaluasi namun tidak masuk dalam kategori manapun. 17.535 hewan dan 1.488 tumbuhan masuk dalam kategori konservasi ini, seperti landak, ayam hutan merah dan hijau.

 

Daftar Pustaka

Surahmaida , Rachmawati A, Handayani E. 2020. Kandungan senyawa kmia daun waru (Hibiscus tiliaceus) di kawasan Lingkar Timur Sidoarjo. Jurnal Of Pharmacy and Science. (5)2:39-42.

Suwandi, Hendrati RL. 2014. Perbanyakan Vegetatif dan Penanaman Waru (Hibiscus tiliaceus) untuk Kerajinan dan Obat. Na’iem M, Mahfudz, Prabawa SB, editor. Bogor: IPB Press.

 

Sumber gambar: (Suwandi dan Hendrati 2014)

 

Penulis: Safira Nabawiah