//Air Asam Tambang

Air Asam Tambang

Air asam tambang merupakan limbah pencemar lingkungan yang terjadi akibat aktifitas pertambangan. Air asam tambang tidak bisa dihindari dalam melakukan penambangan. Limbah ini terbentuk karena adanya proses oksidasi bahan mineral pirit (FeS2) dan bahan mineral sulfida lainnya yang tersingkap ke permukaan tanah dalam proses pengambilan bahan mineral tambang. Proses kimia dan biologi dari bahan-bahan mineral tersebut menghasilkan sulfat dengan tingkat keasaman yang tinggi. Secara langsung maupun tidak langsung tingkat keasaman yang tinggi mempengaruhi kualitas lingkungan dan kehidupan organisme (Wahyudin et.al 2018). Air asam tambang mengadung sulfida tertentu sehingga air bersifat sangat asam dan biasanya mengandung zat besi serta mangan dengan konsentrasi yang tinggi. Selain itu, pada saat penambangan air tanah atau air hujan yang terkumpul di dalam kolam tambang selain bersifat asam juga seringkali mengandung zat padat tersuspensi (suspended solids, SS) dengan konsentrasi yang tinggi (Said 2014). Dampak negatif yang dihasilkan dari air asam tambang adalah masyarakat disekitar tambang, bioa perairan, kualitas air tanah, pengaruh terhadap alat pertamabangan dan bangunan (Nasir et al. 2014).

Reaksi antara besi, oksigen dan air akan membentuk asam sulfat dan endapan besi hidroksida. Endapan pada saluran tambang atau kolam pengendapan lumpur yang berwarna merupakan endapan besi hidroksida (Yellowboy). Dalam reaksi umum pembentukan air asam tambang terjadi empat reaksi pada pirit yang menghasilkan ion-ion hidrogen yang apabila berikatan dengan ion-ion negatif dapat membentuk asam (Nasir et al. 2014). Air asam tambang ini tentunya banyak ditemukan diarea penambangan baik itu tambang batu bara maupun mineral. Air asam tambang pada lingkungan pertarnbangan batubara mempunyai karakteristik pH yang rendah sekitar 3 dan kadar sulfat yang tinggi serta mengandung loganr berat (besi). Untuk mengetahui jenis kandungan dalam air asam tambang dapat kita bedakan dari warnanya, seperti warna merah/jingga menandakan banyak endapan besi hidroksida, dan berwarna hijau kebiruan yang menandakan bahwa air asam tambang tersebut memiliki tembaga yang tinggi (Wijaya 2010).

Salah satu bentuk penangan air asam tambang saat ini adalah menggunakan Settling Pond. Yaitu kolam yang digunakan untuk pengelolahan air limbah tambang, dengan pengolahan air dengan settling pond ini, diharapkan kualitas air limbah tambang yang keluar dari daerah pertambangan akan sesuai standar baku mutu yang telah di tetapkan. Pada Settling Pond dilakukan pemantauan bulanan dan harian serta efektifitas pengelolaan air limbah tambang pada settling pond berdasarkan uji AHP. Proses penanganan air asam tambang yang dilakukan melalui beberapa tahap yaitu :

  1. Air asam tambang yang ada pada pit kemudian di alirkan menuju sump dengan cara dibuatkan parit dari sumber air asam tambang menuju sump atau dengan cara memompa.
  2. Setelah air dialirkan menuju sump kemudian di pompa menuju sediment pond (yang berfungsi untuk menangkap dan menahan air ketika tanah mengendap jadi sedimen) melalui paritan.
  3. Air akan dialirkan lagi menuju kompartemen 1, dimana kompartemen 1 ini adalah zona masukan/ inlet sekaligus menjadi tempat proses pengapuran. Pengapuran dilakukan agar air tambang tersebut dapat dialirkan ke daerah dengan pH sesuai standar.
  4. Air yang yang telah melalui proses pengapuran tadi kemudian di alirkan menuju kompartemen 2 atau tempat netralisasi air. Di kompartemen 2 ini air akan di tampung kemudian akan diliat kadar pH apakah telah mencapai standar baku mutu yang telah di tetapkan sebelum dikeluarkan meunuju sungai melalui kompartemen 3 atau zona outlet (Wahyudin al 2018).

Penganganan air asam tambang dengan settling pond cukup lama dilakukan dan terdapat beberapa tahap yang memakan banyak lahan. Tetapi dilakukannya settling pond cukup berpengaruh signifikan jika air asam tambang dibuang ke sungai sehingga tidak mencemari sungai. Penanganan lain yang bisa dilakukan dengan tidak membuang air asam tambang yang berada pada kolam adalah dengan memanfaatkan tanaman yang bisa menyerap logam berat pada air asam tambang dan menaikkan kadar pH air, hal ini biasa disebut dengan fitoremediasi. Tanaman yang bisa melakukan fitoremediasi seperti eceng gondok, api-api, purun dan lain sebagainya. Setelah dilakukan fitoremediasi lubang air asam tambang bisa dimanfaatkan sebagai tambak ikan. Biasanya saat lahan tambang dilakukan reklamasi air asam tambang yang membentuk kolam bisa dilakukan penimbunan dengan tanah.

 

Penulis: RIFFAN RIYADI, SABRYNA ADITYA PUTRI, SYAFAATU MAULIDIA, AGNIPRISKA VIRDANA YUPAL, WIMBO ARDYATAMA, AMELYA QOIS NABILLAH, ILHAM ARYA MAHENDRA

 

Daftar Pustaka

Nasir S, Purba M, Sihombing O. 2014. Pengolahan air asam tambang dengan menggunakan membran keramik berbahan tanah liat, tepung jagung dan serbuk besi. Jurnal Teknik Kimia 3(20): 22-30.

Said NI. 2014. Teknik pengolahan air asam tambang batubara “Alternatif pemilihan teknologi”. JAI. 7(2): 119-138.

Wahyudin I. Widodo S. Nurwaskito A. 2018. Analisis penanganan air asam tambang batu bara. Jurnal Geomine. 6(2): 85 – 89.

Wijaya RA. 2010. Sistem pengolahan air asam tambang pada Water Pond dan aplikasi model Encapsulation In-Ptt Disposai, pada Waste Dump tambang batubara. Jurnal Manusia dan Lingkungan.17(1): 1-10.

 

Sumber gambar: duniatambang.co.id