//Tanah Pasca Erupsi Gunung Berapi

Tanah Pasca Erupsi Gunung Berapi

bal-ap-indonesia-volcats20100902043950  faktualnews.co  okeinfo.net

 

Indonesia dikenal sebagi negara yang mempunyai gunung api aktif terbanyak di dunia, yaitu lebih dari 30% dari gunung aktif dunia ada di Indonesia. Rekaman sejarah mencatat sepuluh letusan besar yang menelan korban lebih dari 211.000 jiwa, dua diantaranya terjadi di Indonesia, yaitu Gunung Tambora tahun 1815 (lebih dari 80.000 jiwa), dan gunung Krakatau tahun 1883 (36.000 jiwa) (Pratomo 2006). Kendati tak luput dari ancaman bencana, kawasan gunung api selalu padat penduduk sejak dahulu karena diyakini merupakan daerah pertanian yang subur. Setelah terjadi erupsi, tanah eks lahar yang tertumpuk materi kasar seperti abu volkan memiliki kandungan bahan yang belum melapuk sehingga mengubah sifat-sifat tanah dan produktivitasnya. Hal ini menyebabkan tanah memiliki kandungan klei sangat rendah (1-3%), struktur tanah yang buruk, air tersedia rendah, lapisan atas dari bahan tuf-volkanik dengan daya adsorpsi dan kapasitas tukar kation yang sangat rendah.

Moral dan Grishin (1998) memaparkan material yang dikeluarkan oleh gunung api terbagi menjadi 4, yaitu lava, batuan piroklastik, lahar, serta tepra atau abu vulkanik. Lava adalah lelehan batuan dari magma berupa material kental dan mengalir secara perlahan. Umumnya lava mengandung batuan basaltic,riolit dan batuan silikat dengan kandungan K tinggi. Mineral seperti plagioklas, klinopiroksin (augite-salite) hornblade coklat, oliterbentuk alofan.vine, titaomagnetik, hipersten dan lain lain, termasuk mineral yang kaya akan hara bagi tanaman jika terlapuk.

Batuan piroklastik adalah aliran erupsi yang mengandung campuran batuan dari gas, yang membentuk batuan scorea dan pumice. Lahar adalah material berupa campuran bantuan, lumpur, dan debu yang terangkut oleh air. Aliran lahanr dingin memiliki daya terjang dan agkut sangat besar, sebagaimana hukum Stokes bahwa viskositas air semakin besar akan memiliki daya angkut yang besar. Hal ini dapat menyebabkan efek negatif berupa erosi, namun juga memiliki efek positif yaitu vegetasi yang terkubur material tepra dapat survive jika erosi terjadi dalam waktu yang tidak lama dari kejadian erupsi (Kodomura dan Imkagawa 1983).

Tepra atau abu volkanik merupakan batuan piroklatis yang dihamburkan ke udara oleh letusan gunung berapi. Tepra mengandung silica mineral dan batuan dengan unsur sulfat, klorida, natrium,kalsium, Mg serta fluoride. Unsur-unsur tersebut dalam bentuk oksida (SiO2, Al2O3) terkena hujan maka akan berubah menjadi hidroksida. Abu volkan yang jatuh akan mengalami proses sementasi dan mengeras, menyebabkan berat jenis (BD) tanah meningkat, sedangkan porositas dan permeabilitas tanah menurun. Kondisi ini menyebabkan tanah sulit ditembus air, kendati demikian kondisi ini meningkatkan kesuburan tanah karena adanya unsur-unsur hara yang diperbaharui seperti Ca, Mg, Na, K dan P.

Pedogenesis tanah dipengaruhi berbagai faktor yaitu bahan induk, iklim, tofografi, dan waktu. Faktor iklim berpengaruh utama dalam pembentukan topseskuen, pada elevasi yang lebih tinggi, curah hujan yang tinggi dan rendahnya evapotranspirasi (ET) akibat pengaruh rendahnya suhu dan tingginya kelembaban pasca erupsi akan menghasilkan leaching yang lebih tinggi dan periode kering yang lebih pendek. Lingkungan yang demikian dapat membentuk tanah andik yang ditandai dengan tingginya kandungan aluminol masif dan retensi pospat yang kuat serta kandungan kompleks Al-humus. Elevasi yang lebih rendah jika perlindian berkurang maka sifat andik tanah dan kandungan bahan organik berkurang akibat dekomposisi yang agak intensif karena suhu lebib tinggi. Kondisi curah hujan berkisar 1500 mm/th maka akan terbentuk haloysit, sedangkan jika curah hujan lebih tinggi maka akan terbentuk tanah alofan.

Rehabilitasi adalah upaya pengembangan lahan (land development) yang bertujuan mengubah lahan yang tidak produktif menjadi tergunakan (usible), salah satunya dengan menggunakan teknik konservasi air dan tanah, yaitu pembuatan tanggul dan stabilisasinya dengan cara mekanik dan vegetatif. Kegiatan reboisasi harus memperhatikan faktor kondisi iklim, watak mekanik tanah, geologi, geomorfologi dan pemilihan jenis tanaman. Beberapa jenis tanaman yang keras untuk penghijauan dan rehabilitasi lahan eks gunung berapi pada tiga kelas kemiringan, yaitu: a)kemiringan <25% (asam jawa, jati, sono kembang, sono siso, sono keling,dan trengguli), b) kemiringan 25-40% (mindi, lamtoro, mahoni, renghas, dan kesambi), dan c) kemiringan >40% (laban,bungur,johar dan kemiri). Jenis tanaman produktif yang memiliki akar tunggang dan cocok untuk lahan longsor antara lain alpukat, aren, bambu, cempedak, jambu mede, kayu manis, lengkeng, petai], sukun, mimba dan asam. Teknik konservasi secara vegetatif yang digunakkan pada kasus Gunung Merapi tahun 2010 misalnya, menggunakan jenis rumput gaja, guetamala dan gajah yang dikombinasi dengan tanaman legum (glirisida dan fleminga) yang ditanam satu jalur rumput (grass strip), terbukti mampu menekan erosi hingga 11.67-14.77 t/ha/th (49-62%).

 

 

 

Sumber:

Badan Litbang Pertanian. 2012. Laporan Hasil Kajian Cepat (Quick Assessment) Dampak Erupsi Gunung Merapi 2010 terhadap Sumberdaya Lahan Pertanian dan Inovasi Rehabilitasinya. November 2012

Kodomura H, Imkagawa T. 1983. Eruption induced rapid erosion and mass movement on Usu Vulcano, Hokkaido. Zeitschrift für Geomorphologie 46:123-142

Morel RI, Grishin SY. 1998. Volcanic Disturbances and Ecosystem Recovery. Seattle (US): University of Washington

Pratomo I. 2006. Klasifikasi gunung api aktif Indonesia, studi kasus dari beberapa letusan gunung api dalam sejarah. Jurnal Geologi Indonesia 1 (4): 209-227

Rahayu, Ariyanto DP, Komariah, Hartati S, Syamsiah J, Dewi WS. 2104. Dampak erupsi gunung merapi terhadap lahan dan upaya-upaya pemulihannya. Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian 29(1): 61-72

 

Foto: darkroom.baltimoresun.com